Bleenews - Kabar buruk datang dari sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat. Sungai Citarum yang memiliki panjang 300 km dinobatkan sebagai sungai terkotor di dunia oleh World Bank. Tentu saja ini bukan merupakan penilaian yang membanggakan.
Memiliki kualitas air yang jauh dari kata layak, warga sekitar aliran sungai Citarum tetap menggantungkan hidup mereka di sini. Persoalannya ternyata tidak sederhana, menyangkut kebutuhan untuk bertahan hidup dan ikatan emosional yang sudah lama terbentuk. Kini persoalan Citarum coba diambil alih oleh pemerintah pusat, bisa kah pemerintah pusat mengatasi ini?
1. Sungai Citarum mengandung bahan kimia beracun yang mengkhawatirkan
Seperti dikutip dari halaman National Geographic, tingkat limbah dan polusi di Sungai Citarum sudah sangat mengkhawatirkan. Penelitian menunjukkan bahwa sungai tersebut mengandung bahan kimia beracun dimna kandungan kimia dalam ainya seribu kali lipat lebih tinggi dari batas air minum aman yang ditetapkan Amerika Serikat.
Karena kotornya air, tidak sedikit penduduk lokal di sekitar Sungai Citarum yang menderita berbagai penyakit. Penduduk lokal, tidak sedikit yang menderita berbagai penyakit kulit, mulai dari kudis hingga infeksi kulit. Juga gangguan pernapasan akibat menghirup asap pabrik. Selain itu kualitas air yang buruk akibat limbah dan polusi juga merusak hasil panen para petani.
2. Dilematis, antara kebutuhan lapangan pekerjaan dan efek limbah yang merusak lingkungan
Persoalan dilematis yang tidak sederhana harus dihadapi pemerintah jika ingin memperbaiki keadaan Sungai Ctarum. Pasalnya, saat ini terdapat sekitar 2000 pabrik tekstil yang memberikan sumber penghasilan dan pekerjaan bagi warga sekitar Citarum. Di sisi lain, pabrik-pabrik tersebut setiap harinya menyumbang 280 ton limbah industri yang dibuang ke sungai. Pemerintah tentu dituntut harus kreatif dalam menyelesaikan problematika ini.
3. Proyek ambisius pemerintah menjadikan air Sungai Citarum layak konsumsi, mungkinkah?
Tata kelola mengenai Citarum kini telah beralih dari pemerintah daerah ke pemerintah pusat. Dengan segala keadaan yang terjadi, pemerintah pusat memiliki ambisi menjadikan air dari Sungai Citarum layak untuk diminum pada tahun 2025. Pemerintah juga telah berjanji akan menindak tegas pabrik-pabrik yang mengabaikan aturan pembuangan limbah. Selain itu, ada upaya pemasangan CCTV untuk memantau pelanggar-pelanggar yang mencoba membuang sampah dan limbah ke sungai.
Jika berhasil, tentu saja hal ini akan sangat berdampak besar bagi keadaan ekonomi, lingkungan, dan kesehatan masyarakat sekitar Sungai Citarum.
Pertanyaannya, sanggupkah kiranya pemerintah pusat merealisasikan janji-janjinya?
Sumber: IDNTIMES








No comments:
Post a Comment
Terima Kasih sudah mengunjungi blog kami, silahkan tinggalkan komentar, saran dan kritik kalian dengan sopan ya :)